SEKOLAH TAK PUNYA BUKU…?!KOK REPOT…!
Pada sesi tanyajawab dalam setiap presentasi saya pertanyaan (lebih tepatnya adalah keluhan)yang hampir selalu muncul adalah soal tidak adanya (atau terbatasnya) buku yangada di sekolah. Dan ini membuat mereka tidak bisa menjalankan program Membaca15 Menit Setiap Hari. Kalau buku tidak ada kan siswa tidak bisa membaca? Yatentu saja. Tapi kalau sudah tahu masalahnya (tidak ada buku) maka solusinyatentulah bagaimana caranya mendapatkan buku. Apalagi…?! Nggih nopo mboten…?! :-)
Ada sebagianguru atau kepala sekolah yang memang tidak terbiasa untuk berpikir mencarisolusi (bahkan ada yang 'menemukan masalah' saja tidak bisa). :-) Kalau ada masalah ya dia langsungmenyerah dan tidak tahu harus berbuat apa-apa. Dia menganggap masalahnyaterlalu rumit untuk dipecahkan tanpa berupaya untuk mencoba jalan keluarnya.
Tapi ada guru atau kepala sekolah yang bertipe'looking for solution'alias langsungcari solusi dari masalah yang ia hadapi dengan cerdas dan kreatif. Salahsatunya yang saya kenal adalah Ibu Laila, mantan kepala sekolah SMAN 21Surabaya yang terletak di jalan Argopuro.
Sebagaikepala sekolah Ibu Laila ini ingin agar sekolahnya yang bukan termasuk sekolahfavorit agar memiliki satu kelebihan yang khas. Ia ingin agar sekolahnyamemiliki satu keunggulan tertentu yang sesuai dengan kapasitas sekolah itusendiri. Beliau tahu bahwa jika ingin bersaing dalam masalah akademis tentulahsekolahnya akan kalah dengan sekolah-sekolah favorit yang siswanya berasal darisiswa-siswa dengan tingkat akademis yang tinggi. Jadi beliau memutuskan untukmenjadikan sekolahnya menjadi sekolah yang berbudaya literasi, yaitu menjadikanmembaca sebagai budaya sekolahnya.Tentu sajabeliau tahu bahwa membudayakan membaca adalah pekerjaan besar dan sulit.Apalagi perpustakaan sekolahnya tidak memiliki koleksi yang memadai untukkebutuhan membaca siswanya seandainya mereka nantinya mau membaca. Tapi beliaumendapat ide cemerlang, yaitu membuat LombaSudut Baca atau Perpustakaan Kelas.
Lomba ini bertujuanagar setiap kelas memiliki sudut baca atau perpustakaan kelas yang berisikoleksi buku siswa sendiri. Jadi setiap kelas didorong untuk membuat sendiriperpustakaan atau sudut bacanya dan itu dilombakan. Beliau tahu bahwa siswa itusuka dengan tantangan dan tantangan semacam ini tentulah akan disambut dengan baik oleh siswa. Beliau juga sekaligusmendorong dan menantang setiap wali kelas untuk menjadikan kelas walinyamemiliki sudut baca atau perpustakaan kelas masing-masing. Jadi ini tantanganbagi siswa sekaligus wali kelas. Untuk itu beliau bekerjasama dengan BadanArsip dan Perpustakaan Kota Surabaya. Barpus akan membantu penilaian dansekaligus memberikan hadiah bagi kelas pemenangnya. Ada pun kriteriapenilaiannya adalah pada jumlah buku dan jenis koleksinya, pengorganisasianbukunya, susunan pengurus dan program baca bukunya, pengorganisasian peminjaman dan hasil bacabukunya, keindahannya, dll. Karena ini bersifat lomba maka buku yang dilombakanadalah buku siswa-siswa sendiri, bukan buku perpustakan sekolah. Mereka harusmencari sendiri buku atau pun bahan bacaan yang akan mereka jadikan sebagaikoleksi perpustakaan kelas mereka.Ternyata lomba inimembuat setiap kelas merasa tertantang untuk membuat sudut baca atauperpustakaan kelas sebaik mungkin. Tentu saja ada beberapa kelas yang hanyadapat mengumpulkan belasan buku saja dicampur dengan majalah-majalah dan komikseadanya, tapi ada kelas yang mampu mengumpulkan seratus lebih buku. Meski adakelas yang nampaknya tidak terlalu antusias terhadap lomba ini tapi adakelas-kelas tertentu yang sangat bersemangat untuk memenangkan lomba sehinggamereka benar-benar berupaya untuk mengumpulkan buku-buku bacaan dan novelsebanyak-banyaknya. Pemenang dari lomba Perpustakaan Kelas ini akhirnyamendapat hadiah dari Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya sebanyak 100eksemplar buku. Ini tentu saja semakin memotivasi siswa dalam mengelolaperpustakaan kelasnya.
Program PerpustakaanKelas ini membuat sekolah ini akhirnya memenangkan penghargaan dan predikatJuara 2 Lomba Perpustakaan Sekolah se kota Surabaya. Ini tentu mengejutkanmereka karena mereka sadar bahwa kondisi perpustakaan mereka masih kalah jauhdengan sekolah-sekolah lain. Apalagi kalau dibandingkan dengan sekolah-sekolahswasta mahal yang memiliki perpustakaan dengan fasilitas bangunan, rak buku,jumlah buku, dan kenyamanan yang jauh lebihmemadai. Ketika mereka bertanya pada dewan juri dari Universitas Airlangga dijawab: "Kekuatan perpustakaan dari SMAN 21 bukan dari fasilitasyang mewah dan memadai, tetapi dari kekuatan siswa yang telah mandirimengembangkan taman bacaan di seluruh kelas baik kelas X, XI, XII. Komunitas siswayang aktif termotivasi mengembangkan Taman Bacaan adalah nilai tinggi yangtidak dimiliki sekolah lain". Tampaknya peran aktif siswa secara mandiridalam mengelola perpustakaan kelas mereka dipandang sebagai sebuah fenomenayang menarik dari sebuah inisiatif yang sangat menonjol. Ini adalah 'FenomenaSMAN 21 Surabaya'. Mereka mengumpulkan buku-buku mereka sendiri, menyusun danmengaturnya di perpustakaan kelas mereka sendiri, mengatur sirkulasi sehinggasemua siswa di dalamnya bisa dan suka membaca. Saat ini adalah pemandangan yangbiasa melihat siswa SMAN 21 menenteng buku bacaan, di dalam atau di luar kelas,baik yang akademik maupun buku bacaan fiksi. Kultur atau budaya membaca mulaiterbentuk pada siswa kami. Sejak adanya koleksibuku di setiap kelas yang merupakan hasil pengumpulan siswa kelas itu sendirisiswa SMAN 21 akhirnya mulai suka membaca. Tentu saja mereka menjadi sukamembaca buku-buku yang ada di kelas mereka karena itu adalah koleksi-koleksibuku yang memang mereka pilih sendiri dan sukai. Itu bukan buku paket atau bukuteks sekolah dan juga bukan buku referensi melainkan buku-buku bacaannon-pelajaran. Mereka bahkan berlomba-lomba untuk saling menunjukkan buku-bukuapa yang telah mereka baca dan saling menunjukkan koleksi buku kelas mereka.Dengan adanya buku bacaan di kelas akhirnya membuat anak menjadi suka membacakarena faktor ketersediaan dan keterjangkauan. Boleh dikata dalam hal ini bukulah yang mendatangi siswa dan bukansebaliknya siswa yang mendatangi buku seperti kalau mereka harus pergi keperpustakaan untuk meminjam buku. Setiap kali ada waktu luang mereka kemudianmengambil buku dan membacanya. Siswa yang semula tidak pernah membaca kemudianakhirnya ikut-ikutan suka membaca karena ia melihat bahwa hampir semua temannyamembaca dan saling menceritakan buku-buku yang telah mereka baca. Membaca bukumenjadi sebuah trend di sekolah ini. Saat ini buku-buku tidak hanya bisa dilihat di setiap kelas. Bahkan dikantin pun ada buku-buku yang bisa dibaca siswa. Siswa mulai membaca dimana-mana, baik itu di kelas, di rumah, dan bahkan di kantin. Budaya baca telahtumbuh di sekolah ini dengan sangat indahnya berkat kesungguhan komitmen danupaya Bu Laila bersama para guru yang tidak mengenal lelah.Jadi jika sekolah Anda memiliki masalah yang sama dengan yang dihadapioleh Bu Laila pada awalnya, mengapa Anda tidak mencoba untuk mengatasinyadengan cara yang sama, yaitu mengadakan Lomba Sudut Baca Kelas atau LombaPerpustakaan Kelas. Surabaya, 22 Februari 2016 Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/
[Non-text portions of this message have been removed]
Posted by: Satria Dharma <satriadharma2002@yahoo.com>
| Reply via web post | • | Reply to sender | • | Reply to group | • | Start a New Topic | • | Messages in this topic (1) |
Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/group/cfbe/messages
Website: http://www.cbe.or.id
Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups.com
Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups.com
Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups.com
Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups.com
----------------- cfbe@yahoogroups.com -----------------
0 komentar:
Posting Komentar