Home » » [cfbe] Re: [IGI] Mahasiswa Tanpa Buku

[cfbe] Re: [IGI] Mahasiswa Tanpa Buku

Written By Celoteh Remaja on Kamis, 22 Januari 2015 | 18.43

 

Sebuah gugatan yg sangat menarik (tapi sekaligus basi). Mahasiswa Tanpa Buku karena di SMA juga Tanpa Buku, di SMP Tanpa Buku, di SD juga Tanpa Buku. Kita bersekolah pada dasarnya Tanpa Buku alias Tidak Membaca Buku.

       Bangsa Indonesia sampai saat ini dianggap TIDAK MEMILIKI BUDAYA MEMBACA (dan kalah dengan bangsa Vietnam yang baru saja merdeka setelah hancur lebur berperang dengan Amerika). Menurut OECD budaya membaca masyarakat Indonesia menempati peringkat paling rendah di antara 52 negara di Asia Timur (Kompas, 2009).
·         Semua negara mewajibkan siswa SMA-nya untuk membaca sejumlah buku karya sastra, KECUALI INDONESIA. Siswa SMA Indonesia TIDAK WAJIB MEMBACA BUKU SASTRA SAMA SEKALI (atau nol buku) sehingga dianggap sebagai siswa yang BERSEKOLAH TANPA KEWAJIBAN MEMBACA.. Angka NOL BUKU untuk SMA Indonesia sudah berlaku puluhan tahun lamanya, dengan perkecualian luarbiasa sedikit pada beberapa SMA swasta elit saja. Tragedi itu menurut Taufik Ismail disebut : TRAGEDI NOL BUKU.
·         Sejak merdeka sampai saat ini kita telah menelantarkan bukan hanya KEWAJIBAN MEMBACA BUKU SASTRA di sekolah-sekolah kita, tapi bahkan MENELANTARKAN KEWAJIBAN MEMBACA di sekolah-sekolah kita. Kita tidak lagi MEWAJIBKAN siswa-siswa kita untuk membaca lagi. Membaca TURUN DERAJATNYA dengan menjadi SEKEDAR ANJURAN, HIMBAUAN, AJAKAN.

Pertanyaannya : Apa yang akan kita lakukan? Sekedar mengritik, mengeluh, dan menangisi nasib atau mau melakukan sesuatu untuk melakukan perubahan. It's you to decide...!

Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/

From: "Dhitta Puti Sarasvati dputi131@gmail.com [ikatanguruindonesia]" <ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>
Sender: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
Date: Thu, 22 Jan 2015 17:01:05 +0700
To: IGI<ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>
ReplyTo: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
Cc: cfbe<cfbe@yahoogroups.com>; sd-islam<sd-islam@yahoogroups.com>
Subject: [IGI] Mahasiswa Tanpa Buku

 

Mahasiswa Tanpa Buku


Oleh Edi Subkhan*
http://www.simpulsemarang.com/2015/01/mahasiswa-tanpa-buku.html

Saya hampir selalu membandingkan apa yang saya lakukan dulu ketika masih mahasiswa unyu-unyu bin culun pas S1 dengan apa yang dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa jaman sekarang. Bisa jadi ini sebuah kelemahan, karena tentu tidak fair membandingkan jaman dulu dan jaman sekarang yang berbeda kecanggihan teknologi dan perubahan budayanya. Tapi ya sebagai manusia biasa tentu saya tidak bisa lepas dari menilai sesuai berdasarkan pemahaman saya atas pengalaman hidup dulu.
Hal yang saya lihat sekarang ini—walau tentu subjektif—adalah: menurunnya minat beli dan baca mahasiswa terhadap buku. Mengenai tuduhan saya ini beberapa kawan berpendapat bahwa sejatinya sejak dulu persentase mahasiswa yang minat buku juga tidak banyak. Mahasiswa yang selalu up date buku, membeli buku, membaca dan mendiskusikan buku konon dari waktu ke waktu memang tidak banyak. Bahkan di kampus seperti Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara pun, mahasiswa yang serius dan bergairah dengan filsafat juga minoritas. Setidaknya hal ini berdasarkan pada curhat dan penghilatan saya ketika sering dolan ke STF Driyarkara semasa saya masih kuliah (S2) di Jakarta dulu (2008-2012).

Kalau hal tersebut benar, maka "kutukan" bahwa para pionir perubahan, cerdik cendekia, dan pemimpin sejati merupakan komunitas elite benar adanya. Di antara 100% mahasiswa paling tidak lebih dari 5% yang benar-benar minat dalam aktivitas akademik dan intelektual, paling tidak lebih dari 5% juga yang berjiwa pemimpin dan bervisi jauh untuk perubahan sosial. Inilah kurva normal mahasiswa yang setidaknya masih tetap proporsinya dari dulu sampai sekarang, yaitu sebagian besar diisi oleh mahasiswa biasa-biasa saja dan sebagian sedikit diisi oleh mahasiswa tidak biasa-biasa saja. Mahasiswa yang tidak biasa-biasa saja inilah yang dapat dipilah menjadi "baik sekali" dan "tidak baik sekali", dari para aktivitas, intelektual, hingga mahasiswa yang tidak tahu tujuan hidup dan bingung siapa dirinya sendiri.

Aktivitas akademik
Pikiran kotor saya selalu muncul ketika melihat mahasiswa/i yang pegang iPad, tablet, HP terbaru, tas baru, ber-fashion modis, sepatu hak tinggi, jeans ketat, celana pensil (celana untuk pensil kok dipakai manusia?), tapi gagu dan membisu ketika di kelas. Saya punya istilah satir sendiri untuk jenis mahasiswa seperti itu, yaitu "gedhebog pisang". Hingga saya pernah melontarkan ide ke beberapa kawan dosen untuk membuat seni instalasi berupa kelas yang kursi-kursi kuliahnya diduduk oleh gedhebog-gedhebog pisang—di mana saya ceramah dan bertanya pada mereka di depan kelas hehe... Karena dianggap terlampau menghina, maka akhirnya tidak jadi saja ide tersebut diwujudkan. Sampai sekarang saya masih bingung, ide tersebut sebenarnya dianggap menghina mahasiswa atau gedhebog pisang?

Pikiran kotor saya pun menjadi-jadi ketika sebagai guru/dosen di kelas memberi tugas pada mahasiswa untuk membuat paper/makalah. Walau sudah diingatkan sejak awal untuk mencari pengertian, informasi, pengetahuan, data, dan sejenisnya dari sumber yang terpercaya, terutama buku, jurnal, ternyata sebagian besar paper referensinya hanya dari internet. Bahkan ada yang karena saking (maaf) go***knya referensi di bagian akhir paper ditulis dari Google. Lagi-lagi kawan-kawan saya mengingatkan bahwa di era internet sekarang ini adalah wajar mengambil referensi dari internet, oleh karena itu melarang mengutip pengetahuan dan informasi dari internet justru adalah sesat pikir. "Wong ada sumber informasi yang mudah diperoleh dan cepat kok dilarang?" begitu mungkin alasannya.

Sebenarnya bagi saya persoalannya bukan soal internet. Melainkan lagi-lagi secara subjektif saya melihat semacam penurunan daya intelektual mahasiswa jika mereka dimanja untuk mengambil referensi seenak udelnya sendiri dari internet, tanpa memikiran dan mempertimbangkan akurasi dan kualitas sumber informasi tersebut. Misal mengambil pengertian pendidikan hanya dari wikipedia atau weblog semacam blogspot dan wordpress pribadi. Mengapa tidak mencoba menelusuri buku-buku babon dan jurnal yang ditulis oleh para cerdik cendekia mengenai defnisi dan pengertian pendidikan? Toh di perpustakaan juga banyak buku tentang pendidikan. Apa alasannya karena internet lebih cepat dan praktis (instant)?

Terlepas dari minimnya kualitas literasi media berbasis internet dari mahasiswa, jika hal ini diterus-teruskan bisa jadi nanti mahasiswa tidak akan kenal perpustakaan, buku, dan cara menulis. Mengapa? Karena internet juga melahirkan kecenderungan tradisi copy and paste! Parahnya lagi ketika perkuliahan di kelas dan mahasiswa diperolehkan untuk membuka laptop dan internet, sering ketika ditanya mengenai suatu hal, mereka mencari jawabannya dengan mencari via Google! Di sini via Google bukan diarahkan mencari referensi teoretik atau kasuistik untuk menjawab pertanyaan dari dosen, melainkan mencari jawaban praktis dari pertanyaan dosen. Kalau dirasa-rasa maka yang berpikir keras menjawab pertanyaan dosen tersebut sebenarnya bukan si mahasiswa, melainkan Google. Mahasiswa sekadar terampil teknis mencari di Google saja, otaknya untuk sementara dianggurkan dulu hehe...

"Loh, kalau memang informasi di era sekarang semua ada di internet, lalu apa salahnya?" sergah kawan saya. "Apa ruginya kalau mahasiswa tidak kenal perpustakaan dan buku jika mereka sudah akrab dengan sumber belajar tanpa batas ruang dan waktu yang disebut dengan internet? Tidak ada ruginya bukan? Apalagi internet dan teknologi digital lebih efektif, cepat, efisien, tidak perlu ruang fisik luas, tidak perlu biaya mahal untuk tinta dan kertas," ujarnya lagi.

Jawaban saya kembali pada budaya turunan akibat internet (bukan internet itu sendiri), yaitu copy and paste, juga cut and glue. Budaya instant tersebut menjadikan mahasiswa tumpul dalam mengkreasi sebuah karya tulis ilmiah maupun non-ilmiah. Mahasiswa jadi tidak mampu memilih diksi/kata yang tepat, tidak mampu merangkai kalimat dan paragraf yang apik dan koheren, tidak juga mampu membuat kerangka tulisan yang sistematis, tidak dapat membuat argumentasi dan narasi yang menarik, tidak juga kuat dan terasah daya kritis-analitis mereka. Bisanya adalah mengambil pendapat orang lain (copy, cut)—terutama dari internet—kemudian meletakkannya dalam word processor (paste, glue) untuk kemudian mendakunya sebagai karya sendiri. Sudah begitu seringkali abai pada kualitas sumber informasi yang di-copy.

Tentu saja di sisi lain internet banyak guna dan manfaatnya bagi dunia literasi, akademik, dan intelektual. Banyak jurnal berkualitas unggulan dipublikasikan secara online dan gratis diunduh oleh siapa saja, misalnya melalui Open Journal System (OJS). Beberapa buku berkualitas juga dapat diunduh dalam bentuk PDF baik secara gratis maupun berbayar. Banyak juga website berita online terpercaya dari dalam dan luar negeri, misalnya CNN, BBC, Times, the Guardian, the Jakarta Post, Antara, Kompas online dan lainnya. Informasi-informasi terpercaya untuk bidang-bidang tertentu juga dapat diakses dari website-website resmi pemerintah dan lembaga terpercaya lainnya, misalnya dari website BPS, BMKG, Unesco, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pustekom, Perpusnas, dan sejenisnya. Oleh karena itu, saya pun dalam menulis paper ketika memerlukan informasi tertentu juga merujuk dan mengandalkan internet, namun tentu dengan memperhatikan kualitas website dan informasinya.

Tentu semua ada plus dan minusnya, dan sayangnya saya selalu terjebak pada penilaian yang bisa jadi sangat personal. Misalnya saya tidak mampu membaca lama di layar komputer karena silau cahayanya. Membaca ebook di smartphone atau komputer juga sulit untuk dicoret-coret atau digaris bawahi dan diberi komentar mengenai hal-hal yang penting di dalamnya. Dan kalau listrik habis, tentu akan makin sengsara ketika kita memerlukan referensi tersebut. Oleh karena itu, ketika saya memperoleh referensi dari internet dan berupa dokumen berformat digital sebisa mungkin saya mem-print out-nya. Lebih dari itu saya sebagai generasi yang lahir di tahun 1980-an, sekolah dasar di tahun 1990-an, punya memori membaca kali pertama ketika SD di perpustakaan yang tidak begitu besar, dan kuliah di awal tahun 2000-an, tampaknya buku sudah lebih dahulu menjadi bagian dari aktivitas intelektual yang saya lakukan selama ini.

Ada semacam rasa nyaman ketika saya memiliki buku yang di dalamnya terdapat pengetahuan dan informasi yang saya perlukan, terlebih lagi ketika pengetahuan dan informasi tersebut penting sebagai referensi paper/tulisan saya. Rasanya buku tetap memiliki keunikan dan keunggulannya tersendiri terkait dengan keterampilan pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan menulis serta publikasi gagasan. Buku tidak bergantung pada colokan listrik, ia portable bisa dibawa ke mana-mana, bahkan ke atas gunung kala camping malam mingguan. Buku yang diterbikan oleh penerbit terpercaya juga telah melalui proses seleksi, pembacaan ketat, editing dan penyuntingan. Mempublikasikan buku bermutu harus melalui proses yang cukup rigorous. Jadi tidak asal tulis lalu diunggah ke publik via website.

Informasi-informasi "serius" pun dari pengalaman selama ini saya cari-cari ternyata hanya dapat saya peroleh dari buku dan jurnal-jurnal ilmiah, bukan dari website. Misalnya cerita lengkap mengenai praksis pendidikan alternatif di luar sekolah dapat saya peroleh dari bukunya mas Ahmad Bahruddin "Sekolah Alternatif Qaryah Thayibah", Butet Manurung dengan "Sokola Rimba" (2013), dan Toto Rahardjo "Sekolah Biasa Saja" (2014). Ketiga buku tersebut bercerita seara lebih lengkap dan cukup reflektif serta analitik mengenai bagaimana menggerakkan praktik pendidikan yang penuh idealisme sesuai dengan konteks tertentu dan didasari oleh basis ideologis yang cukup kuat. Ketiga cerita tersebut sampai sekarang tidak dapat saya temui dalam ulasan-ulasan di website yang saya cari via Google.

Mengenai ilmu pendidikan bisa baca karya Ki Hadjar Dewantara langsung terbitan Majelis Luhur Taman Siswa (2004), "Filsafat dan Strategi Pendidikan M. Sjafei" oleh A.A. Navis, "Spektrum Problematika Pendidikan Indonesia" oleh Mochtar Buchori, juga "Pendidikan dan Perubahan Sosial" dari H.A.R. Tilaar, "Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita" oleh Soedijarto, "Sekolah untuk Kehidupan" oleh Zulfikri Anas, dan lainnya. Ulasan-ulasan lengkap Ki Hadjar, Navis, Buchori, Tilaar, Soedijarto, dan Anas tidak dapat saya temui di website mana pun ketika saya ingin merujuk pada konsep-konsep dasar pendidikan hasil olah pikir para cerdik cendekia pendidikan asli Indonesia. Lebih-lebih buku sejarah pendidikan seperti "Menjadi Indonesia" karangan Parakitri Simbolon, "Demokrasi dan Kepemimpinan"—mengenai sejarah Taman Siswa—Kenji Tsuchiya, "Pembangunan Pendidikan nasional 1945-1995: Suatu Analisis Kebijakan" H.A.R. Tilaar, "Pendidikan dalam Alam Indonesia Merdeka" oleh Soegarda Poerbakawatja, dan lainnya. Sampai sekarang pun saya tidak dapat memperoleh detail analisis dan narasinya di website, hanya dari buku-buku itulah saya dapat memperolehnya.

Sungguh ironis—inilah pikiran kotor saya yang laig-lagi muncul—ketika mahasiswa diminta mengulas pengertian dan diskursus pendidikan ternyata sekadar mengambil dari wikipedia, blogspot, wordpress, atau file-file presentasi dan makalah berformat PDF dari website seperti Scribd dan sejenisnya. Ironis karena tidak ada upaya untuk menelusuri pengertian pendidikan dari buku-buku bermutu yang secara luas dan mendalam memang secara khusus mengulas mengenai teori-teori pendidikan. Akhirnya yang diperoleh adalah informasi dan pengetahuan yang sepotong-sepotong, yang diambil hanya untuk memenuhi tugas dari dosen agar dapat nilai A+++. Bukankah dalam fakta ini begitu jelas dan kentara bagaimana mahasiswa tidak memiliki naluri dan intensi serta keseriusan untuk menjadi intelektual?

Inilah mungkin yang dapat kita simpulkan sebagai menurunnya daya dan minat intelektual mahasiswa di era internet. Keterampilan mencari, memilah, dan memilih informasi berkualitas dan terpercaya menurun. Daya kritis, keseriusan, dan keuletan mencari sumber informasi berkualitas juga nihil. Bisa jadi karena memang niat kuliah bukan untuk menjadi akademisi (padahal mahasiswa di kampus disebut sebagai bagian dari civitas academica), melainkan sekadar ikut tradisi, mencari ijasah untuk bekal kerja mapan, atau mencari jodoh. Persepsi yang berkembang di masyarakat dan juga jenjang pendidikan level SMA yang tidak memberikan pemahaman memadai, pada akhirnya memang membuahkan gelombang calon mahasiswa yang bisa jadi sebagian besar tidak punya visi dan keseriusan kuliah, terutama dalam mengembangkan dan mengasah kemampuan serta keterampilan akademik mereka.

Aktivitas gerakan sosial
Hal tersebut belum lagi kalau kita berbicara mengenai idealisme gerakan mahasiswa (student movement). Obrolan di warung kopi atau di lapak Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS) seringkali berbuah simpul bahwa organisasi mahasiswa intra kampus (antara lain BEM, HMJ/Hima) sekarang tak lebih dari sekadar event organizer (EO) pembuat acara seminar. Atau kalaupun ada yang membuat semacam "sekolah kaderisasi" ternyata juga tidak banyak membuahkan gebrakan riil yang visioner dan terarah serta terbukti. Penyakit di dunia organisasi mahasiswa ekstra kampus agak berbeda, beberapa organisasi sudah sangat rapi kaderisasinya (misalnya KAMMI, HMI), namun seringkali—tidak semua—berorientasi pada ketertutupan dan kemandekan gairah dan kreativitas intelektual. Hanya sedikit yang meletupkan gagasan yang kuat dasar intelektualnya, dan dari yang sedikit tersebut ternyata mereka melakukan aktivitas "subversif" dengan membaca banyak literatur yang tidak diberikan oleh organsiasi dalam proses pengkaderan secara resmi (misalnya gebrakan KAMMI kultural di Yogyakarta dan beberapa tempat lainnya yang menggugat PKS sebagai organisasi induknya).

Pada beberapa kesempatan saya selalu bilang bahwa sebuah gerbong organisasi semilitan dan sesolid apapun itu, tapi kalau tanpa dasar dan kreativitas intelektual memadai maka ia ibarat hanya gerbong panjang yang mengarah pada kejumudan berpikir dan stagnansi intelektual belaka. Karena yang dilakukan hanya membeo apa kata senior dan pimpinan organisasi, hingga tidak terlatih otaknya untuk berpikir kritis dan kreatif menghasilkan perspektif dan wawasan yang berbeda. Fenomena ini mengakibatkan sebuah organisasi hanya akan jadi batu pijak lompatan karir dari para pimpinan organisasi saja, atau sekadar jadi boneka dan kaki tangan politik dari organisasi induknya. Sudah seharusnya tiap organisasi mahasiswa punya pijakan ideologis kuat, dasar intelektual dan orientasi pengembangan kapasitas intelektual yang juga kuat. Dengan begitu tiap sikap dan gerakan sosial, politik, dan kulturalnya, didasari oleh ijtihad pemikiran dengan dasar intelektual (filosofi, ideologi) kuat.

Sudah jelas jika kita menengok sejarah, maka dapat kita lihat bahwa para pionir perubahan, pemimpin organisasi yang berpengaruh di masanya, adalah para organisatoris yang intelektual. Mereka kuat secara wacana, banyak membaca buku, banyak menulis, dan terbuka serta fair dalam diskusi dengan kelompok yang berbeda paham. Sebut saja Cak Nur, Gus Dur, Cak Nun (trio Jombang) yang memiliki bidang garapan gerakan di ranah berbeda-beda, namun tidak ada satupun dari ketiganya yang besar tanpa tradisi literasi, tanpa membaca, tanpa menulis. Cerita biografi Cak Nur bisa dibaca pada bukunya Budhi Munawar-Rachman "Membaca Nurcholis Madjid" dan "Cak Nur, Sang Guru Bangsa" (2014) oleh Muhamad Wahyuni Nafis. Mengenai Gus Dur banyak sekali yang mengulas, misalnya biografi Gus Dur oleh Greg Barton dan tentang Cak Nun bisa dibaca di "Jalan Sunyi Emha Ainun Nadjib" oleh Ian L. Betts dan "Kitab Ketenteraman: dari Khasanah Emha Ainun Nadjib" (2014) oleh Aprinus Salam, M. Alfan Alfian, dan Wawan Susetya. Atau Ulama sekelas Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari pendiri Nahdlatul Ulama, K.H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, Buya Hamka, M. Natsir, dan lainnya, semua punya tradisi literasi (baca, tulis) yang kuat.

Kembali ke konteks mahasiswa di kampus sekarang, sebaik apapun pelatihan leadership diberikan, namun jika tanpa basis dan pemupukan serta dasar intelektual, maka akan kering kerontang dari kekayaan wawasan dan keluasan pengetahuan. Mahasiswa aktivis yang ingin menjadi pemimpin di organisasi mahasiswa atau lebih dari itu, jika tidak mulai mentradisikan untuk membaca buku-buku bermutu, maka hanya akan menjadi pemimpin tanpa visi ideologis kuat, miskin kosakata dan imajinasi komunikasi. Hanya akan membawa organisasi mengikuti tren yang dibuat oleh televisi dan dunia korporasi, terombang-ambing dalam pertimbangan dan kalkulasi pasar tanpa pegangan ideologis. Hanya berpikir seminar apa yang laku, yang bisa layak jual dan menarik bagi sponsor, yang bisa menarik massa banyak. Akhirnya yang didatangkan adalah para artis idola para mahasiswa gaul yang pikirannya lebih banyak disetir oleh televisi ketimbang buku bermutu.

Tentu tidak semuanya begitu, masih ada beberapa aktivis organisasi mahasiswa yang memiliki tradisi intelektual bagus. Membaca banyak buku biografi tokoh-tokoh hebat, membaca buku-buku sejarah dan gerakan sosial, teori-teori sosial kritis, berselera tinggi membaca novel-novel berkualitas. Saya selalu katakan di kelas bahwa belajar dan memperoleh pengetahuan melalui buku berbeda dibandingkan melalui televisi. Buku akan melatih aktif otak kita, menyambungkan antar sinapsis di otak kita menjadi lebih banyak, bercabang, dan mengaktifkan kembali simpanan file-file informasi di simpul-simpul dan lipatan-lipatan otak kita. Juga melatih dan mengembangkan imaji dan kreasi. Membaca mengajari kita untuk sabar membuka helai demi helai halaman buku, mengajari kita cara merawat buku yang baik. Mengajari kita bersabar sampai halaman akhir dan menikmati proses (membacanya) ketimbang hasil. Buku memberi kesempatan dan jeda waktu bagi kita untuk mengendapkan pemahaman, menengok lagi halaman yang kita kurang paham dan membacanya berulang-ulang. Berinteraksi dengan buku adalah tradisi lama yang sudah terbukti mampu mengasah daya intelektual dan menjadikan gerakan sosial, politik, dan kultural apapun menjadi terarah.

Ya, bisa jadi saya terlalu bernostalgia dengan buku. Dan sudah pasti analisis saya ini subjektif berdasarkan pengamatan saya pribadi sejak menjadi mahasiswa (S1) dulu hingga sekarang mengajar mahasiswa. Apa yang saya dan kawan-kawan upayakan melalui Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS) adalah berupaya untuk memfasilitasi—terutama—bagi mahasiswa yang berminat untuk menempuh jalan intelektual. Jalan untuk mengakrabi buku dan aktivitas intelektual seperti meneliti, diskusi, dan menulis. Jalan sunyi memang, namun kalau tidak ada yang mengambil jalan itu, niscaya telaga kebajikan tidak akan pernah kita temui untuk kemudian kita reguk kesegaran airnya, obor penunjuk jalan menuju kebenaran pun tidak akan bisa dinyalakan, dan matahari kesadaran tidak akan pernah terbit. Semoga sekarang bukanlah masa di mana mahasiswa tanpa buku, kampus tanpa perpustakaan, dan akademisi tanpa gairah intelektual. Selama ada mahasiswa-mahasiswa yang minimal saya kenal akrab seperti Exsan, Solekhan, Misbah, Farchan, Mabrur, Astri, Muslimin, Niko, saya merasa selalu ada harapan. [ 

__._,_.___

Posted by: "Satria Dharma" <satriadharma2002@yahoo.com>
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (2)
---------- http://groups.yahoo.com/group/cfbe ----------
Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/group/cfbe/messages
Website: http://www.cbe.or.id

Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups.com
Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups.com
Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups.com
Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups.com
----------------- cfbe@yahoogroups.com -----------------

.

__,_._,___
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Kumpulan Milis Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger