Apa masih terjadi dok? Krn duadasawarsa yg lalu laboratorium gunungsindur pernah melakukan kajian withdrawal time obat ditemukan residu obat salah satunya hormon pd organ ayam. Konsentrasi tinggi ada pd organ hati tdk bs clearance akibat siklus enterohepatik. Tapi itu dulu dan persisnya tdk tahu. Bisa ditanyakan sejawat yg buat kajian saat itu.
Wah gawat, haree genee masih ada dokter yg kuper. Dia ITU sudah melanggar Etika, bukan wilayahnya kok berani2nya bikin statement...
"'Denny W. Lukman' dennylukman@hotmail.com [Dokter_Hewan]" <Dokter_Hewan@yahoogroups.com> wrote:
Yth Kolega Dokter Hewan
saya forward email dari kolega Dr Fitri (ASKESMAVETI)
Ya kita perlu meluruskan pengertian yang salah pada kolega dokter
salam veteriner
denny
Denny Widaya Lukman, DVM, MS, Dr.med.vet.
Division of Veterinary Public Health | Department of Animal Infectious Diseases and Veterinary Public Health
Faculty of Veterinary Medicine | Bogor Agricultural University
Jalan Agatis Kampus IPB Dramaga Bogor 16680
Indonesia
Phone/Fax +62 251 8625588 | Mobile +62 81513803047
e-mail dennylukman@hotmail.com> From: fitrinp@yahoo.com
> Subject: Pelurusan negative campaign
> Date: Thu, 2 Apr 2015 08:57:00 +0700
> CC: fitri@japfacomfeed.co.id; rezhahs@japfacomfeed.co.id; heni4364@yahoo.com
> To: dedykage@yahoo.com; widiyanto2surya@gmail.com; boethdyangkasa@yahoo.com; dennylukman@hotmail.com; azhar_drh@yahoo.com; desianto@cpjf.co.id
>
> Yth
> Kolega Drh Pengurus ADHPI, KKUN dan ASKESMAVETI
>
>
> Masih banyaknya pemahaman yang keliru dari para dokter tentang penggunaan hormon pada unggas, membuat perunggasan semakin terpojok dengan pernyataan2 mereka yang notabene Opinion Leader dan dijadikan referensi oleh masyarakat.
>
> Kalau kita abaikan dan hanya "menggerundel" diantara kita, negative campaign ini tidak akan pernah berhenti. Rasanya kita harus melakukan pendekatan dan mendiskusikan hal ini dengan dasar kajian ilmiah.
>
> Berikut adalah statement dari Dekan FKMUI dapat dibaca di web kompas.com
>
> Ilustrasi
> Rabu, 1 April 2015 | 16:45 WIB
>
>
> JAKARTA, KOMPAS.com — Berhati-hatilah ketika membeli ayam potong. Beberapa peternak rupanya telah menyuntik ayam dengan hormon estrogen. Hormon tersebut disuntikkan untuk mempercepat pertumbuhan hewan sehingga dikenal dengan hormon pertumbuhan (growth hormone).
>
> Menurut Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI) Agustin Kusumayati, konsumsi ayam yang disuntik hormon dapat memengaruhi hormon anak laki-laki yang masih dalam masa pertumbuhan.
>
> "Kalau anak kita laki-laki suka sekali makan ayam yang gemuk-gemuk, sementara ayam di peternakan disuntik hormon, dan hormonnya itu hormon perempuan (estrogen), jangan heran penisnya bisa menjadi kecil," kata Agustin dalam diskusi keamanan pangan di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (1/4/2015).
>
> Tak hanya itu, menurut Agustin, hal tersebut juga bisa membuat perilaku anak laki-laki menjadi seperti perempuan. Adapun bagi anak perempuan, terlalu banyak konsumsi ayam yang disuntik hormon dapat mempercepat datangnya haid.
>
> "Misalnya sekarang ada anak-anak usia 9 tahun yang sudah haid. Padahal biasanya umur 11 atau 12 tahun," kata Agustin.
>
> Meskipun dilarang, Agustin menduga masih ada peternak yang menyuntikkan hormon tersebut. Sayangnya, tidak mudah membedakan ayam yang disuntik hormon ataupun yang tidak. Namun, biasanya, ayam yang disuntik hormon adalah ayam negeri dan secara fisik terlihat gemuk.
>
> Tak hanya ayam, hewan ternak lain, seperti sapi, juga bisa disuntik hormon. Namun, menurut Agustin, jumlah kasusnya sangat sedikit jika dibanding ayam.
>
> Selain itu, menurut Agustin, ayam yang diberi suntikan tersebut bisa saja ditemukan di pasar tradisional ataupun swalayan. Agustin pun meminta konsumen untuk lebih pandai memilih makanan yang akan dikonsumsi.
>
> Penulis: Dian Maharani
> Editor: Lusia Kus Anna
>
>
> Mohon tanggapan Bapak- Bapak, dan mohon waktu untuk bertemu.
>
> Salam hormat dan terima kasih
> Fitri Poernomo
> Sent from my iPhone
Posted by: dEmit <gmait481@gmail.com>
| Reply via web post | • | Reply to sender | • | Reply to group | • | Start a New Topic | • | Messages in this topic (3) |
0 komentar:
Posting Komentar