Kemiskinan Nelayan Kronis
Kemiskinan telah menjadi bagian hidup nelayan kecil karena penghasilan yang tidak sesuai dengan ongkos melaut serta bergantung pada cuaca, seperti terlihat di Kampung Nelayan Tambaklorok, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (5/4). Kebijakan pemerintah yang berpihak kepada nelayan menjadi harapan besar mereka agar bisa hidup lebih sejahtera.
(KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA)
JAKARTA, Baranews.co — Kemiskinan kronis menjerat nelayan di sejumlah daerah di Nusantara. Kesejahteraan mereka secara turun-temurun tak kunjung membaik. Penyebabnya, mereka jauh dari akses untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.
Keadaan ini sudah dihadapi nelayan selama berpuluh-puluh tahun, bahkan hingga pada Hari Nelayan Ke-55 yang jatuh hari Senin (6/4).
Angka statistik yang menunjukkan nilai tukar nelayan sejak Desember lalu naik, yang seharusnya berarti kesejahteraannya membaik karena pendapatan lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran, kenyataannya tidak dirasakan nelayan.
Potret kemiskinan nelayan antara lain ditunjukkan oleh nelayan tradisional yang tinggal di salah satu kantong nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, di sepanjang tepi Kali Adem. Nelayan berada di tempat itu sudah lebih dari tiga generasi. Sebagian besar dari mereka adalah nelayan dengan kapal rata-rata berbobot 5 gros ton dan panjang sekitar 6 meter. Kapal ini merupakan kapal motor terkecil. Kapal ukuran ini merupakan kapal yang paling banyak dimiliki nelayan Indonesia.
Permukiman nelayan itu berada di atas aliran Kali Adem. Sekitar 200 rumah berukuran 4 meter x 4 meter dibangun dengan topangan pilar-pilar bambu. Dinding rumah terbuat dari tripleks, berlantai papan, dan beratap seng.
Sampah rumah tangga, seperti plastik, botol, dan sisa memasak, terlihat menumpuk di bawah rumah itu. Limbah mandi-cuci- kakus (MCK) tiap keluarga juga langsung dibuang ke Kali Adem. Padahal, pada musim kemarau, air sungai tak mengalir sehingga sampah dan berbagai jenis limbah lain menumpuk dan menggenang di sana.
Di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, nelayan mengakui bahwa kehidupan mereka makin berat ketika harga bahan bakar minyak naik. Akibatnya, nelayan juga terbebani kenaikan harga bahan pangan. "Kenaikan biaya perbekalan bisa mencapai 20 persen karena perbekalan melaut tidak semata-mata bahan bakar," ujar Rudi, nelayan setempat.
Kelompok nelayan di Indramayu, Jawa Barat, mengatakan kerap mendapat tangkapan yang minim, hingga pernah hanya mendapat Rp 10.000 per orang sehari dan bahkan pernah tidak mendapat uang sama sekali.
"Kalau tidak ada uang, kami berutang biaya perbekalan sama bos," kata Kholili, nakhoda Kapal Bintang Barokah. Sekalipun mendapat Rp 10.000, lanjut Kholili, uang itu tak mencukupi untuk kebutuhan hidup mereka.
Habib (48), nelayan di Kranji, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menuturkan, mereka hanya bisa menggunakan kapal kecil. Kapal itu tak bisa jauh dari pantai. Sayangnya, saat ini ikan di tepian sudah langka sehingga banyak nelayan dengan perahu kecil menambatkan perahunya dan memilih bergabung dengan kapal berukuran lebih besar.
H Kasmuddin, nelayan di Makassar, Sulawesi Selatan, mengatakan, saat ini, untuk mendapatkan ikan, mereka harus melaut lebih jauh. Artinya, dibutuhkan waktu berhari-hari dan modal lebih besar untuk bahan bakar serta bekal makanan selama melaut.
Akses perbaikan minim
Para nelayan mengatakan, sulit meningkatkan kemampuan mereka untuk menambah atau membeli kapal dengan kapasitas besar. Mereka mengakui pendidikan mereka sangat rendah.
KOMPAS/ADI SUCIPTO
NIKSON SINAGA
Mulyadi (35), nelayan generasi ketiga di Muara Angke, hanya mencicipi pendidikan sampai kelas III SD. Sekarang ia berusaha menyekolahkan anaknya agar tidak menjadi nelayan lagi. Bagi dia, nelayan identik dengan kemiskinan. Ia menyekolahkan anaknya kelak bukan untuk menambah pengetahuan tentang cara mereka melaut agar lebih modern yang bisa meningkatkan kapasitas produksi. Namun, hal itu dilakukan agar bisa bekerja di luar pekerjaan nelayan.
Darmin (30) melaut sejak lulus SMP. Ia mengikuti jejak ayahnya yang juga nelayan di Muara Angke. Ia lahir dan tinggal di permukiman nelayan tradisional Muara Angke.
Menurut dia, hidup bersama anak dan istrinya sekarang tidak banyak berbeda dengan kehidupan ayah dan ibunya dulu. "Penghasilan tak pernah bisa ditabung, sedangkan utang selalu saja ada. Yang berbeda hanya permukiman yang semakin padat dan kumuh, sementara penghasilan semakin menurun," tuturnya.
Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Abdul Halim mengatakan, kemiskinan nelayan yang terstruktur tecermin dari sejumlah persoalan klasik yang belum terpecahkan sejak dulu.
Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana mengatakan, nasib nelayan tidak banyak berubah karena keterbatasan akses hulu-hilir, mulai dari permodalan, sarana penunjang, hingga pemasaran produk.
Kebijakan pemerintah dinilai makin baik, tetapi tidak ada yang langsung mengangkat nasib nelayan. Ainur Rofik (41), nelayan di Lamongan, mengatakan, nelayan mengapresiasi langkah pemerintah menenggelamkan kapal-kapal asing yang menangkap ikan di perairan Indonesia.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kabupaten Brebes Rudi Hartono menyebutkan, nelayan berharap kepada pemerintah untuk bisa meningkatkan kesejahteraan dengan melanjutkan program yang langsung dirasakan nelayan.
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, fokus kerja kementeriannya tahun ini antara lain pemberantasan perikanan ilegal.
Menanggapi keluhan nelayan, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan Gellwynn Jusuf mengatakan, pemerintah akan mendorong sejumlah program pemberdayaan, mendorong akses pembiayaan ke perbankan, dan mengatur akses pemasaran agar tangkapan dijual dengan harga layak.(B01/B09/ACI/ETA/WIE/UTI/REK/LKT/REN/FRN)
Sumber: Harian Kompas, 6 April 2015
---------------------------------------------------
Keanekaragaman budaya Indonesia dari satu sisi adalah kekayaan, tetapi dari sisi lain adalah kerawanan. Sebagai kekayaan, keanekaragaman budaya dapat menjadi sumber pengembangan budaya hibrida yang kaya dan tangguh, melalui penyuburan silang budaya. Sebagai kerawanan, keanekaragaman budaya melemahkan kohesi antar suku dan pulau.
Berbagi informasi adalah hal terpenting dalam bermasyarakat. Terlebih bagi nelayan tradisional dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dan masyarakat luas yang tinggal di belahan bumi lainnya.
Kunjungi FB dan Twitter KIARA. Pastikan Anda adalah orang yang pertama kali mengetahui perkembangan informasi kelautan dan perikanan nasional.
----------------------------------------------------
Sekretariat Nasional Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan
The People's Coalition for Fisheries Justice
Jl. Manggis Blok B No. 4, Perumahan Kalibata Indah
Jakarta 12750, Indonesia
Telp./Faks. +62 21 799 3528
Email. kiara.indonesia01@gmail.com
FB. KIARA
Twitter. @sahabatKiara
Keanekaragaman budaya Indonesia dari satu sisi adalah kekayaan, tetapi dari sisi lain adalah kerawanan. Sebagai kekayaan, keanekaragaman budaya dapat menjadi sumber pengembangan budaya hibrida yang kaya dan tangguh, melalui penyuburan silang budaya. Sebagai kerawanan, keanekaragaman budaya melemahkan kohesi antar suku dan pulau.
Berbagi informasi adalah hal terpenting dalam bermasyarakat. Terlebih bagi nelayan tradisional dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dan masyarakat luas yang tinggal di belahan bumi lainnya.
Kunjungi FB dan Twitter KIARA. Pastikan Anda adalah orang yang pertama kali mengetahui perkembangan informasi kelautan dan perikanan nasional.
----------------------------------------------------
Sekretariat Nasional Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan
The People's Coalition for Fisheries Justice
Jl. Manggis Blok B No. 4, Perumahan Kalibata Indah
Jakarta 12750, Indonesia
Telp./Faks. +62 21 799 3528
Email. kiara.indonesia01@gmail.com
FB. KIARA
Twitter. @sahabatKiara
__._,_.___
Posted by: KIARA Indonesia <kiara_indonesia@yahoo.com>
| Reply via web post | • | Reply to sender | • | Reply to group | • | Start a New Topic | • | Messages in this topic (1) |
===== Petunjuk Milis Lingkungan ===========
Gunakan bahasa yang sopan dan bersikap dewasa
Berlangganan: lingkungan-subscribe@yahoogroups.com
Berhenti : lingkungan-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Lingkungan tidak menerima segala bentuk ATTACHMENT, bila ada
yang akan kirim ATTACH harap di-COPY & PASTE di BADAN EMAIL.
===== Motto:Lestari dan berseri Indonesiaku ======
Arsip berita-berita lingkungan di Indonesia :
http://groups.yahoo.com/group/berita-lingkungan/
Berlangganan : berita-lingkungan-subscribe@yahoogroups.com
Gunakan bahasa yang sopan dan bersikap dewasa
Berlangganan: lingkungan-subscribe@yahoogroups.com
Berhenti : lingkungan-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Lingkungan tidak menerima segala bentuk ATTACHMENT, bila ada
yang akan kirim ATTACH harap di-COPY & PASTE di BADAN EMAIL.
===== Motto:Lestari dan berseri Indonesiaku ======
Arsip berita-berita lingkungan di Indonesia :
http://groups.yahoo.com/group/berita-lingkungan/
Berlangganan : berita-lingkungan-subscribe@yahoogroups.com
.
__,_._,___
Assalamualaikum wrb,perkenalkan saya Sinta dari Padang saya pengusaha properti,saya ngin berbagi pengalaman kepada teman2 semua,dulu saya hanya penjual jamu keliling,hidup susah penghasilanpun hanya bisa untuk makan,saya punya anak tiga suami tinggalkan saya pada saat kelahiran anak saya yang ke 3.putus asa sempat terlintas dipikiran saya,tapi saya harus berjuang demi anak2 saya,tidak sengaja saya buka internet dan saya lihat no ki agenk bondowoso,saya coba telpon beliau,saya dikasi solusi tapi saya ragu untuk menjalankannya tapi saya coba beranikan diri mengikuti saran beliau syukur alhamdulillah sekarang saya bisa sukses seperti ini usaha properti saya terbilang sukses,sekarang semua anak2 saya sekolah dan sudah ada yang sarjana,terimah kasih saya ucapkan pada ki agenk bondowoso berkat anda saya bisa seperti ini,khusus untuk room ini terima kasih karna saya bisa berbagi pengalaman,untuk teman2 yang mau seperti saya atau yang sedang dalam kesusahan khususnya yang terlilit hutang banyak silahkan hub ki agenk bondowoso di nmr 082348727567 insya Allah dikasi solusi,ini pengalaman saya nyata dan tidak ada karangan apapun sumpah atas nama Allah,salam persaudaraan,WAssalam
BalasHapus