Home » » [cfbe] Manikur Menteri Anies Baswedan (Oleh: Anom Astika)

[cfbe] Manikur Menteri Anies Baswedan (Oleh: Anom Astika)

Written By Celoteh Remaja on Senin, 06 April 2015 | 09.17

 

Manikur Menteri Anies Baswedan

Manikur Menteri Anies Baswedan

SEBUAH kajian yang dilakukan oleh The Programme for International Student Assessment (PISA) dan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mengungkap realitas tentang lemahnya minat baca anak Indonesia. Lebih jauh, lembaga-lembaga tersebut menilai kemampuan berhitung anak-anak Indonesia berada di urutan terbawah dari 65 negara yang dijadikan objek studi.

Kajian tersebut digali sejak Oktober 2012 hingga Februari 2013 dengan menggabungkan data primer di lapangan dan data sekunder dari laporan-laporan sebelumnya dengan lokasi penelitian di lima provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Peluncuran hasil kajian tersebut pada hari Rabu (25/3) mengundang banyak perhatian media massa nasional dan daerah. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kebudayaan Anies Baswedan juga hadir dan merespons temuan kajian tersebut.

Perhatian media massa mewujud dalam beberapa berita bertajuk seperti "Anak Indonesia Paling Malas Baca Buku" atau "50 Persen Anak Usia di Atas 15 Tahun tak Lihai Membaca" atau "Kemampuan Logika Anak Indonesia Tertinggal", dan lain-lain.Aneka tajuk tersebut bak ungkapan keprihatinan terhadap kemampuan intelektual anak Indonesia, sekaligus juga menyatakan bahwa orang dewasa Indonesia sangat suka membaca buku.

Media massa tampaknya kurang memperhatikan secara kritis temuan PISA dan OECD. Pada 2012, tahun yang sama ketika PISA dan OECD melakukan penelitian, terungkap data bahwa jumlah terbitan buku di Indonesia tergolong rendah, tidak sampai 18.000 judul buku per tahun. Jumlah itu lebih rendah dibanding Jepang yang mencapai 40.000 judul buku per tahun, India 60.000, dan Tiongkok sekitar 140.000 judul buku per tahun. Dari 18.000 judul itu pun sumbangan terbesar diberikan oleh produksi buku anak-anak.  

Sementara itu, Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) melalui situs resminya melaporkan bahwa sekitar  33.199.557 eksemplar buku terjual di Indonesia sepanjang 2013. Dari jumlah itu, sebanyak 7.635.898 (23%) eksemplar yang terjual adalah buku anak-anak. Sementara untuk kategori fiksi dan sastra, yang tentunya dibaca oleh orang dewasa, hanya terjual sekitar 4,3 juta eksemplar. Dengan kata lain, apa yang diungkap oleh PISA dan OECD mengenai rendahnya minat baca anak Indonesia perlu diperiksa lebih lanjut, mengingat produksi dan konsumsi buku anak-anak relatif yang tertinggi selama tiga tahun terakhir.

Media massa pun tak perlu terlalu terperanjat dengan temuan PISA dan OECD, karena rendahnya minat baca bukan baru saja terjadi tetapi sesungguhnya sebuah persoalan klasik yang dihadapi oleh setiap pemerintahan sejak Indonesia merdeka. Apalagi, sepanjang periode Reformasi tidak ada upaya serius dari setiap presiden untuk menggalakkan minat baca dan memberi insentif yang  mendorong maju industri perbukuan, membuat harga buku menjadi lebih murah. Tanpa kebijakan-kebijakan terkait kedua hal tersebut, anak-anak Indonesia akan lebih baik dan senangmembaca berbagai macam teks di media internet dengan modal seharga pulsa Rp 5-10 ribu.

Celakanya, Menteri Anies Baswedan seolah sungguh-sungguh mengamini temuan PISA dan OECD sembari berdalih bahwa wilayah negara yang luas dan jumlah penduduk yang besar merupakan faktor yang memengaruhi buruknya prestasi Indonesia tersebut. Bahkan, keadaan semakin parah di daerah terpencil dan minim akses transportasi. Lantas, apa hubungannya argumen Menteri Anies dengan penurunan dan peningkatan minat baca? Negara yang luas dan populasi yang tinggi itu realitas konkret masyarakat Indonesia, bukan penyebab menurunnya minat baca anak Indonesia.

Lebih jauh, Menteri Anies menyatakan bahwa, "Membaca itu logika, karena (saat membaca) struktur kalimat itu membentuk logika berpikir. Karena itu, kemampuan bahasa dan matematika menjadi (kebutuhan) sangat mendasar sekali." Strategi pemerintah dalam menjawab tantangan menurunnya minat baca adalah dengan memperbaiki kualitas pembelajaran melalui penguatan kurikulum yang mendukung kompetensi murid dengan keterampilan abad ke-21, sehingga memungkinkan murid mengembangkan potensi seluas-luasnya. Hal itu bisa dicapai melalui penguatan aktor-aktor pendidikan, seperti kepala sekolah, guru, dan masyarakat.

Barangkali satu hal dilupakan Menteri Anies, yakni perihal kesadaran anak-anak dalam proses pembelajaran. Anak-anak yang otak dan tubuhnya baru tumbuh berkembang tentu ingin melihat bentuk nyata dari apa yang dipelajarinya di sekolah, terutama dalam bentuk permainan serta aktivitas kolektif bersama teman sebaya. Kognisi anak-anak perlu berpapasan dengan pengetahuan dan perlu berlatih melihat ataupun menggunakan pengetahuan sebagai keterampilan membentuk kenyataan.

Adalah kesalahan besar mengawali meningkatkan minat baca anak-anak dengan mengajak para guru rajin membaca dengan harapan murid-muridnya juga akan rajin membaca. Sebaiknya itu dimulai dari empati guru untuk mendengarkan gagasan dan fantasi anak-anak serta membantu anak-anak agarmampu mewujudkan gagasan dan fantasi mereka dengan acuan bacaan yang berguna.

Seperti ungkap filsuf pendidikan Paulo Freire, "Pendidikan itu pembebasan bagi mereka yang mencintai tubuh dan pikirannya, seiring dengan penerimaan kognitif mereka terhadap realitas yang bertentangan dengan pikiran-pikiran mereka, demi sebuah dialog yang mewujud nyata dalam tindakan kolektif." Agaknya, Menteri Anies Baswedan semakin kehilangan arah saat berbicara tentang pendidikan. Setelah pasrah menerima temuan PISA dan OECD, beliau hanya mampu menggosok kuku jemarinya hingga mengilap agar tampak tidak memalukan di hadapan publik.***

__._,_.___

Posted by: Dhitta Puti Sarasvati <dputi131@gmail.com>
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
---------- http://groups.yahoo.com/group/cfbe ----------
Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/group/cfbe/messages
Website: http://www.cbe.or.id

Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups.com
Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups.com
Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups.com
Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups.com
----------------- cfbe@yahoogroups.com -----------------

.

__,_._,___
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Kumpulan Milis Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger